KUMPULAN TULISAN MUDA-MUDI MAROBEA

KUMPULAN TULISAN MUDA-MUDI MAROBEA

Latest Updates

Kameko Pelepas Rindu Sang Rantau

Oktober 03, 2018
Sumber: Facebook Boy Candra Lambhae

Kerumunan manusia duduk bersila (paseba) melingkari jergen bernoda. Ada gelas dan saringan teh teriringi cerita menjelajahi samudera salah seorang manusia. Rupanya, seorang Rantau baru saja pulang dari tanah nan jauh. Berbagi pengalaman mendaki gunung kehidupan ke teman-teman lama di kampung halaman.

Tumpahan air kuning dari bibir jergen berulang kali memenuhi gelas. Habis ke gelas diterusi ke mulut-mulut manusia secara bergantian sampai jergen kosong tak tersisa. “Ini uang, tambah lagi lima liter.” Seru sang Rantau kepada salah seorang Dinda (adik-adik di kampung). Mengobat rindu di kampung halaman, tak afdol bila tak ditemani tegukan air kuning. Sebuah kredo yang mendogma setiap pikiran perantau  sepulang dari pengembaraanya. Rupiah hasil keringat pengembaraan tak segan dikorbankan untuk memuaskan hasrat dahaga yang rindu akan rasa iturasa khas dari Kameko.   

Kameko, sebuah penamaan minuman tradisional masyarakat Muna. Diproduksi dari sadapan pohon aren. Takdirnya memiliki rasa manis sesuai arti namanya. Akibat kreasi brilian dari segelintir manusia, Kameko menjelma menjadi produk memabukan yang meninggalkan kemanisannya. Dan bagi seorang Rantau yang doyan minuman beralkohol, pulang kampung  tak sekedar kesempatan berjumpa keluarga dan teman lama tetapi adalah kesempatan emas merasakan kembali Kameko.

Kemeko kerap disanksi sebagai biang penyakit masyarakat. Tak jarang, orang bertikai di keramaian karenanya. Dalam urusan rumah tangga, Kameko juga mendalangi munculnya KDRT. Ya, namanya alkohol bila dikonsumsi hingga melenyapkan kesadaran akibatnya banyak timbul aktivitas kriminal. Di sisi lain, Kameko pula dianggap sebagai penyelamat kantung rupiah. Banyak sarjana dan TNI lahir dari tanah Muna berkat biaya hasil dari penjualan Kameko.

Tapi bagi seorang Rantau, sebagai penyelemat atau penyakit tak menjadi soal. Kameko akan selalu jadi pilihan pelepas rindu. Untuk berkumpul bersama teman kampung yang telah lama di tinggal jauh. Bercerita tentang kehidupan hingga kantung rupiah mulai lapar. Baginya, uang bisa di cari, tapi tidak untuk kebersamaansangat jarang terjadi. Waktunya di kampung halaman hanya sesaat. Selepas itu, selalu kembali dan betah di tanah rantau sebab di sanalah ladang rupiah untuknya. Terlebih di sana tak ada Kameko. Jadi “Mari Minum Sampe Puas Pisa” Ungkap sang Rantau.

#Komarobheano

Risi Kepada Pengguna Jam Karet

September 27, 2018
Sumber : http://hanahanifahsepuluhsatu.blogspot.com

Sering kali saya ketemukan orang-orang yang suka gunakan waktu jam karet. Mungkin mereka berpikir "ah ngapain pergi cepet,  palingan belum ada yang datang." Kalau semua orang berpikir seperti itu akan ada selalu yang datang telat.

Tidak berpikirkah, ada beberapa orang yang membatalkan atau menghancurkan jadwal yang telah disusunnya sedemikian rupa hanya karena ingin memenuhi kesepakatan pertemuan bersama mereka, pengguna jam karet.

Seorang membuat perjanjian dengan waktu yang telah ditentukan akan tetapi pembuat janji itulah yang mengaretkan waktu. Bukankah hal itu akan membuat seseorang yang lain kapok datang cepat di pertemuan- pertemuan selanjutnya.

Tentang pengalaman saya hari ini. Sebelumnya seorang teman membuat suatu janji pertemuan. Jam pertemuan telah ditentukan, akan tetapi setelah saya datang di tempat dengan waktu sesuai perjanjian. Menunggu hingga satu jam lamanya dan tanpa konfirmasi apapun, pembuat janji tak kunjung datang.  Membuat saya kecewa dan tak percaya lagi dengan waktu yang akan ia janjikan kedepannya.

Segala apapun yang kita kerjakan selalu berkaitan dengan waktu.  Tapi waktu yang kita susun sedemikian rupa rapinya akan hancur berantakan  hanya karena ulah pengguna jam karet.

Inilah yang membuat kita kalah maju dengan yang lain(baca:mereka yang disiplin waktu). Disaat yang lain telah maju 10 langkah. Kita masih jalan ditempat.

#Risma

KECEMASAN DAN CERITA

September 25, 2018
Sumber : http://motorscopio.blogspot.com


Serpihan kecemasan mulai bertebaran dan sudah mulai nampak di permukan. Itulah yang melanda sebagian mahasiswa pada semester 7 yang kebelet, mengakhiri masa studi di S-1nya. Kebingungan sana sini mulai menghatui menentukan judul yang pas sesuai dengan hati dan tentunya relevan agar bebas hambat dalam proses pengajuannya tanpa harus dipersulit. Waktu pun mulai terasa cepatnya berlalu dalam setiap pertukaran peran antara siang dan malam.

Kecemasn itu mulai tumbuh subur merasuki pikiran dan hati. Karna mengingat nama baik selama ini di bangun dalam ruangan perkuliahan akan tercoreng bila tidak menjadi teladan. Padahal amunisi masih terasa kurang untuk dibawa di medan perang, karna dalil dan teori sudah menunggu dengan gagah perkasa, siap untuk menerkam siapa saja yang maju. Tameng pun yang selama ini dibangun belum kokoh untuk menjadi benteng pertahanan. Imunisasi dari berbagai pihak sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menutupi jurang kelemahan.

Pemaksaan diri ini sudah mulai terdeteksi dengan kesibukan diri masing masing. Sekat pemisah antara satu sama lain sudah mulai terasa, intensitas perjumpan perlahan-lahan mulai meredup. Dulunya pertemuan itu selalu dibumbui dengan tawa, konflik, gosip, obrolan ngawur, diskusi, dan lain sebagainya bersatu padu dalam cerita kita.

Namun semua itu sudah tak bermakna lagi bila mengingat orientasi kedepan, karena semua individu punya target dan cita-cita.   Nostalgia itu biarlah menjadi saksi bahwa kita pernah jadi saudara tak sedarah. Lahir di rahim universitas dan jurusan yang sama, menimba ilmu dan menggali pengetahuan.

#Realy

LETUPAN RINDU SEORANG BAJO

September 25, 2018
Sumber : http://bobyjulian131.blogspot.com
Panorama langit hari ini begitu indah. Awan kemerahan di senja sebelum gelap datang. Aku duduk termangu di pinggir pantai. Mantapnya, ditemani suara ombak yang terus bergulung. Memandang lautan yang terus menguning ditemani secangkir coklat panas, mengingat sesosok yang jauh di sana. Hati kecil menyimpan rindu untuknya. Dan saya berharap dia merasakan hal yang sama. Sudah begitu lama ku tak berjumpa dengannya. Tetapi itu tidak membuatku lupa akan sosoknya.

Rindu. Rindu yang menjerat, Entah sampai kapan rindu ini akan sampai padanya. Adakah yang bersedia menyampaikan rindu yang telah membelenggu dalam dada ini ? Kalau ada siapakah gerangan ?

Suara adzan magrib telah berkumandang, membuat saya sadar bahwa waktu yang terlewat sudah begitu lama. Aku terkejut, lalu kuberpikir: mengapa memikirkannya membuat ku lupa waktu ?

Terlalu indah menikmati panorama dan indahnya lautan ditemani ombak membuatku lupa diri. Bergegas dari dudukan dan segera pergi  menunaikan shalat magrib. Selalu menenangkan ketika ku menghadap pada-Nya. Selalu ku sebut nama-Nya dalam setiap sujudku. Berharap dipertemukan lagi dengan yang jauh terindu. Doa itu tidak pernah terlewatkan di kala saya mengingat segala tentang dirinya yang jauh. Mudah-mudahan doa ini bisa terkabulkan oleh Sang Khalik.

Perlahan-lahan sang Raja kegelapan mulai nampak bersamaan cahaya lampu yang menemaninya. Nampak semua rumah yang ada dipesisir pantai menyalakan pelita disetiap sudut rumah. Pelita yang memancarkan cahaya-cahaya bagaikan taburan bintang di langit. Sangat indah dan menajubkan.

Badan mulai disengat rasa dingin, angin sudah mulai tak bersahabat. Mungkin sudah waktunya beranjak. Meski masih merasa nyaman dengan panoramanya. Melangkah memasuki kamar. Merebahkan tubuh yang mulai lelah. Dan menyibakkan selimut ke seluruh tubuh yang dingin akibat terpaan angin malam. Berharap terlelap ditemani mimpi indah, esoknya, ingin disambut mentari cerah saat memulai aktivitas baru. Tugas selalu siap menanti, rutinitas membosankan namun wajib diselesaikan.

Meski begitu api kerinduan tak pernah padam. Terus berkobar, kian hari semakin berkobar. Air dunia pun takan sanggup memadamkannya. Aku butuh pemadam rindu. Dia. Hanya dia. Hanya butuh temu dengan dia. Dia yang telah menggorogoti ruang rindu. Namanya selalu menyayat-menyayat hati. Aku menanti Perjumpaan yang akan memadamkan api rindu, Aku menunggunya, terus melawan kerinduan. Sampai kapan ? Sampai dia yang jauh kembali. Aku menunggu saat itu.

#Realy
#Ikhdat
#Risma

CATATAN PENA UNTUK NEGERI

September 25, 2018
Sumber : https://statis.dakwatuna.com

Tak terhitung berapa banyak keluhan kita terhadap negeri ini. Kritik kritik tajam yang hanya sampai di obrolan warung kopi. Persekusi dilakukan terhadap para pelaku demonstrasi. Mereka yang meneriakkan hak hak rakyat dalam negeri, hanya dianggap suara bising yang tak berarti.

Itu dulu. Zaman sekarang, protes terhadap birokrasi tidaklah harus melalui orasi. Kita bisa membuat puisi, atau tulisan seperti yang dilakukan para pendiri. Tengoklah sekarang, bagaimana tulisan tulisan media yang begitu indah bisa digunakan untuk membolak balikan fakta. Tulisan begitu ditakuti. Pastilah kita mengingat bagaimana birokrasi begitu takut dengan hasil sebuah literasi. Mereka begitu takut, sampai menekankan bahwa itu hanyalah sebuah fiksi. Tulisan laksana pedang yang bisa mencakup semua kalangan.

Tak ingatkah kita, tokoh tokoh terdahulu yang coretan coretan pena-nya sangat membakar semangat. Hitler, yang dikenal sebagai diktator paling kejam, bahkan menulis buku saat di dalam penjara. Buku berjudul Mein Kempf (perjuanganku) yang membuat Jerman bangkit dari keterpurukan akibat kekalahan di perang dunia pertama. Tan Malaka yang keluar masuk penjara karena tulisannya yang terus mengkritik pemerintahan kolonial belanda yang takut dengan karya-nya. Bapak proklamator kita, Bung Karno, yang menulis pledoi yang diberi judul Indonesia Menggugat dari balik jeruji penjara. Mereka semua melawan dengan pena. Dengan coretan coretan bermakna yang ditakuti para lawannya. Jika kita mau membawa perubahan buat negeri, mau berbuat seauatu buat negeri, menulislah.

#Ikhdat

MENOLAK LUPA MENYAMPAIKAN ASPIRASI

September 25, 2018
Sumber : https://nobodycorp.org

Riwayat hidup lambat laun akan terlupakan bila hanya diwariskan secara verbal mengingat daya tangkap manusia sangat terbatas untuk di-save dalam memorinya. Riwayat ini bisa bertahan bila didokumentasi melalui tulisan sebagai bukti eksistensinya sekaligus untuk mendeskripsikan sesuatu hal. Agar tidak disenyapkan oleh waktu sehingga menjadi sebuah mitos belaka. Hal ini terjadi pada salah seorang filsuf terkemuka pada zaman klasik di Athena yaitu "Socretes". Sebagian  orang meragukan keberadanya, lantaran sebelum meninggal dunia tidak ada karya tulis yang diwariskan, meksipun pemikiran-pemikiran bijaknya banyak dicatat oleh muridnya sendiri, yaitu plato tapi itu tidak bisa meyakinkan semua orang. Dia dianggap hanya sebagai mitos belaka.

Tokoh-tokoh terkemuka dahulu banyak menyumbangkan pemikiran melalui coretan-coretan hitam diatas kertas putih. Itulah dilakukan salah satu tokoh emansipasi wanita indonesia pasca penjajahan kolonial di negeri ini, yaitu R.A Kartini. Perlawanan yang dilakukan hanya melalui pena dan kertas dikemas dalam bentuk surat yang menceritakan tentang kondisi sosial yang dialami bangsa terutama bagi kaum hawa. Dimana, kebebasan mereka mengenyam pendindikan direnggut, karena dianggap tidak berguna dan bermafat untuk bangsa. Surat-surat ini kemudian dikumpul dan terjemahkan dalam bahasa indonesia lalu dibukukan. Buku inilah menjadi ispirasitif yang memberi motivasi kaum hawa untuk memperjuangkan bangsa atupun memperjuangkan haknya sebagai perempuan yang selalu dikekang.

Bila dengan membaca kita bisa mengenal dunia, maka dengan menulislah kita bisa  dikenal dengan dunia. Dengan menulis kita dapat dengan mudah untuk menyampaikan, apa buah pemikiran yang terpikirkan kepada para pembaca seantero dunia. Baik itu buah pemikiran seperti dakwah, perlawanan, poltik, perjuangan, paham ateisme dan sebagainya. Hal ini akan tersalurkan dengan lancar kepada para penikmatnya.

#Realy
 
Copyright © PENA MAROBEA. Designed by OddThemes & Best Wordpress Themes 2018